Tampilkan postingan dengan label literasi digital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi digital. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2022

Saatnya Kita Semua Memerdekakan Diri dari Berita-berita Palsu

KEMAJUAN jagad digital dewasa ini perlu dibarengi pula dengan kehati-hatian kita dalam mengkonsumsi informasi agar kita benar-benar bebas dan merdeka dari berita-berita palsu. 

Berita palsu perlu kita waspadasi. Foto: freepik.com.

Indonesia dewasa ini berada di peringkat kelima sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia, setelah Amerika Serikat, India, Brazil dan Tiongkok. Menurut laporan bertajuk Digital 2021 yang dirilis lembaga pemasaran media HootSuite & We Are Social, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2021 lalu telah mencapai 202,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 15,5 persen atau sekitar 27 juta jiwa jika dibandingkan pada awal 2020 silam.

Dari laporan tersebut terungkap pula bahwa pengguna internet Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 8 jam 52 menit untuk berselancar di dunia maya. Adapun aktivitas berinternet yang paling digemari oleh pengguna internet Indonesia adalah bermedia sosial. Ditaksir, sekitar 170 juta orang Indonesia saat ini merupakan pengguna aktif media sosial. 

Terkait dengan aspek komunikasi, peningkatan aksesibilitas serta mobilitas teknologi digital dengan cepat mengubah cara kita berkomunikasi. Peradaban kita sekarang ini telah berada pada fase yang disebut-sebut oleh sementara kalangan sebagai fase homo digitalis, tatkala eksistensi kita lebih banyak ditentukan oleh aktivitas digital. 

Sekarang ini, kita begitu mudah berkomunikasi secara instan dengan menggabungkan teks, foto maupun video melalui teknologi telepon pintar atau komputer serta perangkat multimedia lainnya. Pada saat bersamaan, siapa pun kini bisa pula memproduksi informasi -- terlepas apakah informasi itu bernilai atau tidak -- dan menyebarkannya ke seantero jagat dengan cepat dan seketika. Perubahan-perubahan yang mengiringi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini telah melahirkan lanskap-lanskap tekstual baru (Carrington, 2005). 

Semakin sulit dimungkiri jagad digital telah menjadi “rumah kedua” dan juga “firdaus baru” kita. Bahkan, boleh jadi bagi sebagian orang saat ini, interaksi sosial justru lebih intens dilakukan di alam maya ketimbang di alam nyata. Jejaring media sosial macam Twitter, Myspace, Facebook, YouTube, Flickr, Instagram, TikTok bukan saja telah mengubah cara kita dalam mendapatkan informasi terkini, tetapi juga kemungkinan telah mengubah cara kita melihat dan memahami aneka persoalan di sekeliling kita -- dari hal-hal yang sangat remeh-temeh hingga hal-hal yang sifatnya prinsipil. 

Waspada berita palsu

Mudahnya kita di era digital saat ini memperoleh aneka macam informasi tentu saja perlu dibarengi oleh sikap kehati-hatian kita dalam memilih dan memilah informasi. Kenapa? Tidak semua informasi yang beredar itu benar. Tidak sedikit yang merupakan berita palsu atau hoaks.

Agar terhindar dari berita-berita palsu, salah satu yang bisa kita upayakan yaitu ketika kita mengakses informasi sebaiknya kita mengakses dari media mainstream yang dapat dipercaya. Dengan demikian, kecil kemungkinan kita mendapat berita-berita palsu.

Selain itu, kita juga perlu mengembangkan sikap kritis dan skeptis setiap kali kita mengkonsumsi informasi. Jangan terlalu mudah men-share atau mengunggah setiap informasi yang kita terima, meski itu datang dari orang-orang yang paling dekat dengan kita. Pastikan setiap informasi yang kita terima, kita cek dan ricek kebenarannya terlebih dahulu.

Lalu, bagaimana sekarang jika kita telah kadung men-share atau menggungah informasi yang ternyata kemudian diketahui sebagai hoaks?

Menurut Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia dan Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho, seperti dikutip inilah.com, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan ketika kita terlanjur menyebarkan berita palsu.

Pertama, jangan hapus unggahan. Kenapa? Karena ini tidak menyelesaikan masalah. Dengan tidak menghapus unggahan, kita bisa mengetahui pembaruan yang bisa dicek ulang.

Kedua, beri klarifikasi. Buatlah unggahan terpisah yang berisi permintaan maaf bahwa informasi tersebut salah, disertai unggahan informasi yang benar. Klarifikasi juga dapat dibuat dengan menulis di kolom komentar sehingga informasi yang benar juga tersebar ke orang yang menyukai atau membagikan unggahan tersebut.

Ketiga, hubungi orang yang menyebarkan. Bila memungkinkan, hubungi orang-orang yang menyukai atau membagikan informasi yang ternyata salah tersebut. 

Di era digital ini,  kita semua dikepung oleh banjir informasi yang demikian dahsyat. Kehati-hatian perlu benar-benar kita kedepankan agar dapat terhindar dari informasi-informasi yang menyesatkan. Termasuk di dalamnya adalah berita-berita palsu.***

--



Minggu, 21 Agustus 2022

Emak-emak Wajib Merdeka dari Hoaks

Lahirnya internet, sebagai salah satu bagian dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, menjadikan informasi saat ini bukan lagi monopoli segelintir individu atau segelintir kelompok. Siapa pun, sepanjang memiliki akses internet, bisa melahap informasi tanpa batas. Bukan cuma itu, siapa pun kini bisa pula memproduksi informasi -- terlepas apakah informasi itu bernilai atau tidak -- dan menyebarkannya ke seantero jagat dengan cepat dan seketika.

Hoaks jadi tantangan kita bersama. Foto: Markus Winkler/Unsplash.

Salah satu bentuk aktivitas yang melibatkan pemanfaatan internet yang kian berkembang dewasa ini adalah penggunaan media sosial. Menurut Nielsen -- lembaga riset informasi dan media yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat -- sekarang ini pengguna internet lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk mengakses situs media sosial ketimbang mengakses situs-situs internet lainnya.

Di sisi lain, kian beragamnya jenis media sosial menjadikan kian banyak orang, termasuk di Indonesia, dewasa ini memiliki lebih dari satu akun media sosial dan membuat mereka semakin lama tenggelam dalam aktivitas di dunia virtual. Sebagai ilustrasi, hasil survei yang dilakukan oleh jobstreet.com beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa 22 persen karyawan di Indonesia setidaknya memiliki tiga akun media sosial yang berbeda, 21 persen lainnya memiliki lebih dari lima akun media sosial, dan 18 persen memunyai empat akun media sosial. Sedangkan para karyawan yang hanya memunyai dua akun media sosial sebesar 16 persen, sementara yang memliki satu akun media sosial sebesar 10 persen. Sebagian besar dari mereka menghabiskan rata-rata tiga jam -- dari waktu kerja delapan jam -- sehari untuk mengakses media sosial.

Kendatipun media sosial melahirkan sejumlah manfaat, seperti menyambung tali silaturahim, menambah pertemanan dan memperluas jejaring sosial serta relasi bisnis, harus diakui keberadaan jejaring media sosial tidak jarang dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak produktif

Salah satu perilaku tidak produktif dalam pemanfaatan media sosial di negeri ini yaitu membagikan atau menyebarkan kabar-kabar bohong alias hoaks. Ada ribuan kabar bohong yang beredar di media sosial. Kabar-kabar bohong itu bukan cuma menyangkut isu politik, tetapi juga ada yang menyangkut isu kesehatan, bencana, agama hingga isu penculikan anak.

Dilansir dari inilah.com, selama kurun waktu antara 23 Januari 2020 hingga 18 November 2021, misalnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat ada sekurangnya 1.991 isu hoaks seputar COVID-19 pada 5.131 unggahan media sosial. Kementerian Komunikasi dan Informatika sendiri telah melakukan pemutusan akses terhadap 5.004 unggahan hoaks tersebut sedangkan 127 unggahan lainnya sedang ditindaklanjuti.

Kaum emak-emak

Boleh jadi tidak sedikit dari mereka yang membagikan atau menyebarkan kabar-kabar bohong lewat media sosial sekarang ini adalah para emak-emak alias kaum ibu.  Ambil contoh, dari kasus hoaks kecelakaan pesawat udara dan hoaks penculikan anak, seperti yang pernah diwartakan inilah.com dan ditangani pihak kepolisian, beberapa waktu lalu, diketahui bahwa sebagian pelakunya adalah ibu-ibu.  Pada titik inilah, membangun budaya berpikir kritis, skeptis dan analitis di kalangan generasi emak-emak menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi bangsa ini di tengah gelontoran informasi yang sulit sekali kita bendung dewasa ini.

Tentu saja, kita ingin para ibu di negeri ini dapat lebih cerdas dan lebih bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Kita sama sekali tidak ingin generasi emak-emak kita berperilaku kontraproduktif dengan menjadi distributor kabar-kabar bohong lewat jejaring media sosial.

Di era digital sekarang ini, kita mengalami banjir bah informasi yang demikian hebat nyaris setiap saat. Kita semua saat ini mendapatkan limpahan aneka ragam jenis informasi, mulai dari teks, suara, gambar maupun film dengan melibatkan beragam platform.

Kemampuan untuk menyaring, memahami, menganalisis, mengelola, memproduksi dan membagi informasi merupakan sebuah keniscayaan. Oleh sebab itu, kemampuan literasi dasar berupa membaca dan menulis saja tampaknya belum cukup menjadi bekal ampuh untuk melakoni kehidupan di masa kini.

Selama ini, kebanyakan dari kita masih mendefinisikan literasi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Akan tetapi, akibat perubahan-perubahan besar sebagai buntut dari kemajuan di sektor teknologi informasi dan komunikasi, kemampuan literasi pun sekarang ini kerap dikaitkan pula dengan kemahiran dalam soal penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi termutakhir. Maka, kemudian, muncullah istilah literasi data, literasi digital, literasi informasi, literasi media sosial, literasi multimedia, literasi virtual maupun literasi web.

Kaum ibu zaman now, mau tidak mau, harus memiliki kemampuan literasi-literasi tersebut, yang memang dibutuhkan untuk mengarungi era digital saat ini. Pelatihan, loka karya maupun kursus-kursus singkat terkait dengan literasi data, literasi digital, literasi informasi, literasi media sosial, literasi multimedia, literasi virtual maupun literasi web yang menyasar kaum ibu sudah seharusnya digiatkan untuk saat ini.

Dengan memiliki kemampuan literasi-literasi tersebut secara memadai, kaum emak-emak di negeri ini diharapkan tidak tergagap-gagap menghadapi banjir informasi dan berbagai perubahan dahsyat sebagai dampak dari terus berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. Sebaliknya, mereka justru mampu memanfaatkan kemajuan teknologi dan melimpahnya informasi untuk menggapai kehidupan yang lebih baik dan lebih produktif.*** 

--


CitraLand City Sampali, Proyek Perumahan Mewah di Medan dengan Return Investasi Menjanjikan

MEDAN kini bukan hanya kota dagang dan budaya, tetapi juga magnet baru bagi para investor properti. Salah satu buktinya adalah meningkatnya ...